TESTIMONI KEBANGKITAN KHAS MATIUS

AntoniusStevenUn

Sebagaimana seluruh Injil bersifat testimonial, baik terhadap kelahiran, kematian, keilahian maupun kebangkitan Kristus, demikian pula dengan Matius. Hampir mirip dengan Injil Sinoptik lain dan Injil Yohanes, Matius menambahkan dua testimoni khas yang tidak dicatat di tempat lain, dalam kaitan dengan kebangkitan Kritus.

Pertama, testimoni dari musuh-musuh Yesus, yakni imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Matius berkepentingan lebih ketimbang Markus, Lukas maupun Yohanes untuk menuliskan testimoni ini karena konteks Injil Matius yang memang ditulis olehJews-Christian kepada Jews-Christian yang tinggal di antara Jews-Non-Christian. Alasannya adalah di dalam 28:15, "ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini". Gosip bahwa mayat Yesus dicuri oleh murid-murid, beredar luas di antara orang Yahudi sampai masa ketika Matius menuliskan Injil ini. Itu sebabnya mengapa ia mau menulis testimoni (baca: membongkar skandal) tentang perlakuan lawan-lawan Yesus.

Satu perikop sebelum perikop kebangkitan, Matius mencatat tentang permintaan penjagaan kubur Yesus oleh pihak orang Yahudi kepada Pilatus. Alasan yang diberikan adalah "penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama" (27:64). Alasan ini secara tersurat adalah ideological-religiousreason, tetapi karena Pilatus tidak berkepentingan dengan itu maka Pilatus membaca alasan mereka sebagai social-politicalreason. Karena alasan ini maka Pilatus memerintahkan prajurit agar menjaga kubur itu "sebaik-baiknya" (27:65). Kita bisa memahami ini karena layanan publik polisi 1717 yang setiap hari dikirimi SMS busuk, tetapi kalau menyangkut bom misalnya, polisi tidak pernah menganggap remeh. Polisi pasti memberikan penjagaan sebaik-baiknya. Siapa tahu, SMS yang ini benar sehingga akhirnya polisi akan dituduh mengabaikan keselamatan masyarakat. Itu sebabnya, dengan pemikiran ini, pasti penjagaan yang dilakukan tidak main-main. Kalau begitu, gosip bahwa murid-murid mencuri mayat Tuhan Yesus adalah gosip yang tidak masuk akal. Kalaupun para penjaga itu mengantuk, tidak mungkin murid-murid membongkar batu besar itu tanpa terdengar oleh mereka.

Dalam perikop kebangkitan, Matius mencatat bahwa para penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati (28:4). Pengalaman eksistensial ini membuktikan bahwa sebenarnya yang pertama melihat kebangkitan justru adalah penjaga-penjaga. Sayang, uang akhirnya membutakan mereka. Para penjaga mengalami gentar ketakutan yang hebat karena Matius memainkan istilah yang digunakan, yakni sama dengan istilah "gempa bumi yang hebat" di ayat 2 (egenetodanegenonto). Lagipula mereka ketakutan seperti orang mati, suatu pengalaman yang dialami oleh Yohanes di Pulau Patmos ketika menulis Kitab Wahyu. Saking hebatnya pengalaman itu sampai-sampai ketika menulis kitab itu, Yohanes tidak menggunakan bahasa Yunani sebaik Injil atau surat-suratnya.

Pengalaman ekstrim para penjaga ini tidak mungkin dapat dibungkam begitu saja. Pengalaman ekstrim itu kerap memaksa seseorang menceritakan secara luar biasa, atau bahkan justru tidak bisa bicara. Tetapi bahwa untuk memutarbalikan pengalaman itu, merupakan sesuatu yang tidak mudah. Tidak heran, para imam kepala harus merogoh kocek dalam jumlah besar untuk menutup mulut dari pengalaman ekstrim-eksistensial para penjaga itu (28:12). Tidak cukup dengan bayaran itu, karena lenyapnya mayat Yesus adalah suatu kesalahan pada para penjaga, imam kepala juga melengkapi dengan suatu jaminan keamanan atas kesalahan ini: "dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa" (28:14). Di sini, Matius menyatakan yang sebenarnya, skandal itu bukan pada murid-murid tetapi justru pada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Dengan membongkar skandal ini, Matius melakukan sekaligus dua hal, bahwa gosip mayat Yesus dicuri itu tidak benar dan dengan demikian lenyapnya mayat Yesus itu hanya satu kemungkinan: Yesus Bangkit!

Kedua, testimoni dari peristiwa supranatural. Hanya Matius yang mencatat bahwa terjadi gempa bumi yang hebat (28:2) dan di sini Matius juga mencatat proses datangnya malaikat dan batu terbongkar. Ada kesengajaan kepentingan Matius mencatat tentang gempa bumi karena Yudaisme tidak pernah memandang remeh peristiwa supranatural. Ketika Tuhan Yesus berjalan di atas air dalam Matius 14, orang-orang mengakuinya sebagai anak Allah. Ketika Tuhan Yesus memberi makan 5000 laki-laki (mungkin semuanya 12-14 ribu orang) dari 5 roti dan dua ikan, maka mereka mengakui bahwa Yesus adalah nabi yang akan datang itu dan mereka ingin memaksanya menjadi raja. Dengan banyak bukti di dalam Injil, kita melihat bahwa Yudaisme memang mengakui hal supranatural sebagai pekerjaan Allah. Itu sebabnya, ketika Matius mencatat adanya perkunjungan malaikat dan gempa bumi maka di sini sebenarnya Matius ingin menekankan kepada orang Yahudi bahwa kebangkitan adalah pekerjaan Allah dan hal itu benar-benar terjadi. Allah sanggup melakukan hal itu!