Markus 3:1-12

Ev.AntoniusS.Un,M.Div.

Injil Markus lebih pendek daripada injil-injil yang lain karena penulisan Injil Markus itu ditulis pada masa penganiayaan Kaisar Nero sehingga tidak cukup waktu untuk penulisan lebih detail seperti halnya Injil Lukas dan kedua, Injil Markus ditulis berdasarkan kenangan pribadi dari Rasul Petrus. Maka Petrus lebih banyak mengingat akan pekerjaan dan sikap hidup Tuhan Yesus daripada khotbah-Nya, hal ini berbeda dengan penulisan Injil Matius yang mencatat dengan lengkap khotbah-khotbah Tuhan Yesus oleh karena penulisannya yang dengan penelitian dan detail. Injil Markus itu ditulis untuk orang-orang kristen yang berada dalam penganiayaan di bawah Kaisar Nero di Roma. Keunikan dari injil ini adalah lebih banyak berbicara mengenai respons kepada Tuhan Yesus termasuk respons para murid-Nya, seperti contohnya dalam pasal 6.

Pada dua perikop ini dicatat respons dari tiga kelompok. Tiga kelompok itu adalah orang Farisi, orang banyak, dan Setan. Kita melihat dan mempelajari respons dari ketiga kelompok ini. Respons pertama adalah dari orang Farisi sesuai yang tercatat dalam Mark 3:6. Orang Farisi adalah satu kelompok agama di dalam zaman Tuhan Yesus yang mempunyai pikiran bahwa orang Israel dibuang karena tidak melakukan Taurat. Menurut seorang ahli sejarah berkebangsaanYahudi non Kristen yang ternama, Josephus, jumlah mereka hanya 6000 orang tetapi keberadaan mereka sangat dikagumi oleh masyarakat. Tetapi orang-orang Farisi mempunyai beberapa problem di dalam agama mereka. orang Farisi itu membawa atau melakukan sesuatu hal yang disebut dengan eksternalisasi. Eksternalisasi adalah orang Farisi membawa agama masuk ke dalam wilayah yang kelihatan (sisi ekstenal/sisi luar). Contohnya, tidak cukup bicara “saya mengasihi Tuhan” tetapi harus ada wujud nyata yang kelihatan. Hal ini baik sekali tetapi orang-orang Farisi melakukan eksternalisasi yang kelewat batas yang maksudnya ialah agama sudah dipandang semata-mata hanya urusan luarnya saja. Maka dari itu mereka tidak menyukai agama yang bersifat kualitatif, seperti contohnya, mencintai Tuhan atau setia kepada Tuhan. Mereka menyukai ke arah yang bersifat kuantitatif, seperti contohnya, saat teduh seminggu berapa kali, tiap kali saat teduh berapa lama, puasa berapa kali, dsb yang seringkali berkaitan dengan pencapaian secara kuantitas (terukur dan dihitung dengan angka). Sehingga orang-orang Farisi boleh dikatakan mereka memaksa melakukan syariat dimana mungkin orang menjalankan agama tanpa hati yang mencintai Tuhan.

Akhirnya berujung pada agama yang bersifat perbandingan maka itulah yang tergambar pada perumpamaan dari Tuhan Yesus yang tercatat di Lukas 18:9-14 dengan permulaan kalimat Tuhan Yesus di ayat 9. Sedangkan persoalan mereka di perikop Markus tadi adalah mereka tidak lagi peka secara spiritual kepada pelayanan Tuhan Yesus yang tercatat dalam Mark 2:8. Tuhan Yesus mengenali isi hati orang-orang Farisi dimana mereka selalu mencurigai Tuhan Yesus dan mereka tidak melihat Dia adalah Allah. begitu pula sikap orang Farisi pada Mark 3:2. Orang-orang Farisi tetap melawan Tuhan Yesus itu membuktikan bahwa mereka sangat keras hati. Orang yang bebal hatinya, apa pun yang dilakukannya itu tidak ada gunanya dan semua akan dilawannya habis-habisan.

Orang Farisi memilih bersekongkol dengan orang Herodian (Mark 3:6) itu merupakan sebuah langkah yang mengingkari prinsip-prinsip agama mereka. Orang Herodian adalah kelompok orang yang percaya bahwa keluarga Herodes adalah keturunan yang dari Tuhan, sedangkan orang Yahudi tahu bahwa Herodes itu bukan keturunan Yahudi tetapi keturunan Esau yaitu bangsa Edom. Herodes Agung pernah menikah dengan putri kaum Hasmonean dimana kaum Hasmonean itu orang Yahudi. Herodes Agung melakukan itu untuk menarik simpati dan meyakinkan orang Yahudi bahwa dia mempunyai relasi dengan orang Yahudi. Herodes itu dibenci oleh orang Yahudi lalu mengapa orang Farisi rela mengingkari prinsip mereka dimana orang Farisi lebih mementingkan kemurnian keyahudian seseorang. Hal ini berarti khusus dalam hal Yesus, orang Farisi berkompromi. Padahal orang Farisi mencaci maki orang bukan Yahudi yang dilihatnya. Orang Farisi begitu jahat dan melawan Yesus sampai prinsip agama mereka sendiri pun dilawan.

Respons yang kedua adalah dari orang banyak dalam Mark 3:7-8. Hal itu menyatakan bahwa pelayanan Tuhan Yesus itu begitu menarik sehingga orang yang sudah melihat memberitahu kepada orang yang belum melihat, yang sudah mendengar memberi kabar kepada yang belum tahu. Orang-orang yang datang kepada Tuhan Yesus itu berasal dari berbagai daerah dan suku yang tempatnya lebih jauh dari wilayah Galilea. Hal ini menandakan pelayanan Tuhan Yesus yang luar biasa sehingga membuat banyak orang dari daerah yang jauh datang pada-Nya. Masalah yang timbul dari perikop ini ialah banyak orang dari daerah yang jauh itu datang pada Yesus karena melihat dan percaya Tuhan Yesus hanya sebagai penyembuh. Dibandingkan dengan orang Farisi, yang tidak percaya malah hendak membunuh Yesus, orang-orang banyak ini percaya kepada Yesus tetapi sikap percaya mereka kepada-Nya hanya sebagai penyembuh.

Respons yang ketiga adalah dari roh-roh jahat dalam Mark 3:10-12. berdasakan bhs aslinya Roh jahat itu adalah roh yang tidak bersih/kotor. Setan itu mengenal Allah dan karenanya Tuhan Yesus berbicara dengan keras pada Setan untuk tidak memberitahukan siapa Diri-Nya yang tertulis di ayat 12, begitu pula yang tertulis di dalam surat Yak 2 tentang Setan yang percaya dan gemetar karena Allah. James Edwards mengatakan bahwa ada tiga alasan mengapa Tuhan Yesus selalu melarang keras Setan berbicara. Alasan pertama adalah strategic interest. Maksudnya agar pelayanan Tuhan Yesus selama di dunia itu tidak dikacaukan oleh omongan Setan yang merusak dan menimbulkan persepsi salah bagi orang Yahudi tentang Mesias sehingga Kristus tidak tersalib. Kedua, typhological interest. Maksudnya ialah tipe (gambaran) mengenai Mesias berdasarkan PL bukanlah tipe yang suka berkoar-koar tetapi tipe yang rendah hati. dan yang terakhir itu adalah christological interest yang maksudnya ialah Tuhan Yesus menghendaki pengenalan akan Kristus terjadi setelah kematian dan kebangkitan-Nya. Maka dari ketiga hal itulah Kristus melarang dengan keras roh-roh jahat itu berbicara tentang diri Kristus. Justru pada respons ketiga ini, Setan mengakui keberadaan Kristus, bandingkan dengan respons dari orang Farisi dan orang banyak.

Persamaan dari ketiga respons diatas adalah sama-sama berdasarkan motivasi yang egois. Respons dari orang-orang Farisi kepada Yesus karena kedengkian mereka seperti yang dikatakan oleh Pilatus. Orang Farisi itu tersinggung oleh perkataan dari Kristus yang menyerang mereka. Ironis sekali karena mereka yang mempelajari Taurat dan menyembah Allah Yahweh justru mereka tidak mengenal Kristus. Perasaan mereka yang menjadi tuhan bukan Allah Yahweh yang menjadi Tuhan atas mereka sehingga dengan alasan yang egois, mereka menyingkirkan Tuhan Yesus. Sedangkan pada bagian orang-orang banyak dari berbagai daerah yang jauh datang kepada Tuhan Yesus, juga karena alasan yang egois yaitu mereka datang untuk disembuhkan. Mereka datang kepada Tuhan Yesus karena ingin kesembuhan bukan karena Yesus itu Tuhan dan Juruselamat. Mereka tidak peduli siapa Yesus namun yang penting adalah kesembuhan. Terakhir, respons dari Setan yang tersungkur dan mengaku Yesus adalah Anak Allah, juga karena alasan yang egois yaitu Setan itu tidak ingin disiksa (Mark 1:24).

Perbandingan berikutnya diantara ketiga respons itu ialah mengapa orang Farisi yang banyak belajar Taurat justru menolak dan membunuh Kristus? Dibandingkan dengan orang banyak yang berdatangan kepada Yesus untuk disembuhkan masih sedikit lebih baik karena mereka masih ada sikap percaya pada-Nya bahwa Dia dapat menyembuhkan, dan sikap yang paling “baik” justru dari Setan dimana Setan tersungkur dan mengatakan Yesus adalah Anak Allah. Bukankah ini sudah terbalik? Bukankah yang seharusnya terjadi justru orang Farisi yang percaya kepada Kristus karena ada tertulis dalam Taurat tentang Mesias dan Setan yang mencari kesempatan untuk bisa menjatuhkan Kristus? Maka dari perbandingan tersebut menjadi pelajaran dan koreksi yang mendalam bagi kita bahwa orang-orang yang begitu rajin belajar firman Tuhan tidak tentu mempunyai sikap hidup sesuai dengan apa yang dimengertinya. Lihat contoh dalam diri Saul, Esau, dan Yudas Iskariot. Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai orang Reformed, yang setiap minggunya selalu mendengar khotbah-khotbah Reformed, mempunyai praktek hidup atau perbuatan/perilaku yang juga sesuai dengan khotbah yang didengar? Janganlah kita seperti orang Farisi yang banyak belajar firman Tuhan tetapi responsnya kepada Tuhan paling buruk. Bukannya yang paling menyembah Tuhan tetapi justru yang paling melawan Tuhan. Marilah kita masing-masing mengevaluasi diri setelah mendengar khotbah maupun belajar firman Tuhan. Marilah kita sadar, berhati-hati, dan peka akan firman yang sudah kita dengar sehingga kita bisa berespons dengan baik di hadapan Tuhan.