PERSEMBAHAN SEJATI

(dalamrangkaHUTGerejaReformedInjiliIndonesiaGRIIMalangke-16)

oleh:

Ev.AntoniusStevenUn,S.Kom.,M.Div.

Nats : Markus12:41-44;Lukas21:1-4

Konsep persembahan di dalam teologi Reformed berbeda dengan konsep persembahan yang diajarkan dalam gereja-gereja belakangan hari ini. Jika gereja-gereja mengajarkan, ”memberi persembahan supaya mendapat lagi yang lebih banyak”, teologi Reformed mengajarkan, ”memberi persembahan karena sudah diberi terlebih dahulu”. Basis ini menjadi asumsi dalam keseluruhan konsep persembahan, membuat bagaimana seharusnya kita memaknai persembahan. Dalam renungan hari ini, kita akan merenungkan berdasarkan dua perikop paralel ini, apakah ciri khas persembahan sejati.

Pertama,persembahansejatiitumemberitanpaalasan.Ada empat dosa terkait dengan persembahan dan eksesnya. Pertama, banyak orang Kristen memakai kemiskinan sebagai alasan untuk tidak memberi persembahan. Kedua, ada orang miskin yang parahnya, sudah tidak memberi persembahan, masih minta sumbangan dari gereja. Ketiga, ada orang Kristen yang diberi banyak berkat (kaya) tetapi tidak mau memberi persembahan. Paling parah, keempat, orang kaya yang sudah tidak memberi persembahan masih memanipulasi gereja bagi keuntungan sendiri. Inilah keempat dosa persembahan.

Bertolak belakang dengan ini, si janda miskin yang tidak disebut namanya ini, malah memberi persembahan tanpa alasan. Sudah janda, miskin lagi. Tapi masih saja memberi persembahan, bahkan persembahan yang amat besar, lebih besar dari orang-orang kaya.

Si janda ini memberi persembahan ”dua peser”. ”Peser” dalam bahasa Yunani adalah ”lepton”, mata uang terkecil di antara orang Yahudi. Orang Romawi tidak mengenal dan memakai ”epton” karena mata uang terkecil mereka adalah ”quadran” (LAI menggunakan istilah ”duit”). Satu ”quadran” sama dengan dua ”lepton”. Berapakah besarnya 1 lepton atau peser jika dikurs ke dalam Rupiah? Berdasarkan Matius 20, upah kerja satu hari adalah 1 dinar. 1 dinar sama dengan 128 lepton. Jika diasumsikan upah kerja satu hari Rp. 30.000,- maka 1 lepton sama dengan Rp. 30.000 bagi 128 yang berarti sama dengan Rp. 234,- Dibulatkan, 1 Lepton/ Peser = Rp. 250,-. Berarti, si janda miskin memberi persembahan 2 Lepton, sama dengan Rp. 500,- Dengan tidak memberi persembahan saja si janda miskin sudah susah hidupnya. Ini malah memberi persembahan dan Markus mengatakan bahwa itu adalah seluruh yang ada padanya.

Kedua,persembahansejatibermotivasitulus. Lukas sengaja menempatkan cerita persembahan janda miskin ini di antara cerita tentang ahli Taurat dan orang-orang di Bait Allah. Bagi ahli-ahli Taurat dalam perikop sebelumnya, mereka memanfaatkan agama bagi kemuliaan diri. LAI menggunakan istilah ”suka” tiga kali padahal dalam bahasa Yunani hanya menggunakan istilah ”philo” (cinta) satu kali. Tetapi penggunaan ini bisa dinalar karena membuktikan betapa cintanya ahli Taurat akan kemuliaan diri.

Dalam perikop sebelumnya, dikatakan ahli Taurat suka duduk di ”tempat terdepan” dalam ibadah dan ”tempat terhormat” dalam perjamuan. Kedua istilah ini menggunakan istilah Yunani yang akarnya sama dengan ”protokol”. Istilah protokol dipakai untuk menggambarkan seorang perjabat haruslah mendapatkan layanan terdahulu dan terbaik. Yang dimaksud dengan ”tempat terhormat” dalam perjamuan adalah tempat yang paling dekat dengan pintu di mana pelayan masuk dan melayaninya terlebih dahulu.

Sedangkan dalam perikop sesudah cerita tentang persembahan janda miskin ini, Lukas mencatat tentang orang-orang di Bait Allah yang mengagumi bangunan dan batu yang indah. Orang-orang ini, diduga oleh para penafsir sebagai ornag-orang Lewi/ imam-imam yang melayani di Bait Allah. Mereka berstatus sebagai ”hamba Tuhan” tetapi hatinya ”hamba uang”. Memanfaatkan agama bagi kenikmatan dan kepuasan diri.

Kontras ini tajam. Agama bisa dipakai untuk kemuliaan dan kekayaan diri. Tetapi dalam tangan si janda miskin ini, agama dipakai untuk mempertontonkan pengorbanan diri. Cinta kepada manusia dan cinta kepada Allah dipraktekkan dalam agama, dan bukan cinta kepada diri. Motivasinya si janda miskin, hati yang tulus untuk Tuhan bukan untuk diri

Ketiga, seiring dengan poin ini, kita melihat bahwakonseppersembahansangatbergantungkepadakonsepkitaterhadapuang. Dengan kata lain, persembahan adalah ekspresi sikap orang Kristen terhadap uang. Tuhan Yesus mengatakan, ”di mana hartamu berada, di situ hatimu”. Artinya, di sini, konsep kepemilikan. Jikalau harta kita adalah uang, maka kita akan memakai Tuhan bagi uang. Tetapi jika harta kita adalah Tuhan, maka kita akan memakai uang bagi Tuhan. Orang yang mencintai uang, sulit memberi persembahan. Orang yang mencintai Tuhan, mudah memberi persembahan. Si janda miskin ini mencintai Tuhan dan bukan mencintai uang sehingga ia memberi seluruh nafkah yang ada padanya.

Yang payah dalam perikop sebelum ini adalah ahli-ahli Taurat, bahkan memakai agama untuk mengelabui rumah janda-janda. Maksudnya begini, pada waktu suami dari para janda itu meninggal, mereka meminta bantuan ahli Taurat untuk mengurusi pembagian warisan sesuai peraturan firman Tuhan. Tetapi para ahli Taurat justru memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mengambil alih sebagian harta. Saking cinta uang sampai rumah janda pun di embat. Para ahli Taurat ini, berdasarkan perkataan Tuhan Yesus dalam Lukas 16, disebut sebagai hamba uang. Mereka bukan saja tidak memberi persembahan, sebaliknya justru memakan persembahan.

Keempat,persembahansejatiitujanjiiman. Sebelum memberi persembahan saja, si janda miskin sudah harus beriman untuk kebutuhan hidupnya. Mana ada orang yang dapat hidup dengan 1/128 upah harian. Sedangkan saat ini, dengan 1/3 upah harian, Rp. 9 ribu saja sudah dianggap orang dibawah garis kemiskinan. Berarti, setelah memberi persembahan itu, ia harus beriman kepada Tuhan. Sering kali, kekurangan bukan berarti alasan kita memberi persembahan. Kita belajar beriman dengan memberi persembahan. Mungkin kurang tetapi kita harus memberi persembahan. Hidup kita, diserahkan ke dalam tangan Tuhan.

Kelima,persembahansejatibukandiukurdarijumlahnyatetapipresentasinyadibandingkandenganpenghasilan. Itu sebabnya, dengan poin ini barulah kita mengerti, mengapa Tuhan Yesus mengatakan persembahan janda miskin lebih besar dari persembahan semua orang kaya, yang dalam catatan Markus, memberi dalam jumlah besar. Jelas, jika membandingkan nominal, logika cara apapun akan mengakui bahwa persembahan Rp. 1 juta lebih besar dari Rp. 100.000. tetapi jika orang yang memberi persembahan satu juta tetapi penghasilannya 1 miliar berarti Cuma 0,1%. Sedangkan ornag yang memberi persembahan Rp. 100 ribu dari penghasilannya Rp. 300 ribu maka presentasi persembahannya adalah 33%.Berarti persembahan 100 ribu lebih besar 330 kali lipat di bandingkan yang persembahan satu juta. Di mata manusia, persembahan satu juta lebih besar 10 kali lipat dari seratus ribu tetapi dimata Tuhan, yang 100 ribu lebih besar 330 kali lipat dari yang satu juta.

Keenam,persembahansejatibukansajadiukurdaripersembahanmemberinyatetapipersembahansisanya. Tidak berarti kita harus memberi persembahan seratus persen karena hal itu tidak realistis. Tetapi, yang dimaksudkan adalah dengan memberi persembahan, kita jangan sombong seolah-olah persembahan kita besar. Kita tahu bahwa kita memberi terlalu sedikit. Pada waktu si janda miskin memberi, ia memberi seluruh nafkahnya, yakni seluruh yang ada padanya kepada Tuhan. Waktu seorang memberi persembahan 1 miliar, jangan sombong karena di tabungannya masih ada 1 triliun. Kita memberi Cuma 1 persen bagi Tuhan padahal semua harta kita berasal dari Tuhan. Biar kita rendah hati dengan persembahan yang kita beri.

Ketujuh,persembahanituadalahkorbanyangmenyakitkan. Dengan memberi persembahan kadang kita sakit tetapi itulah cinta sejati. Tidak ada cinta yang tidak sakit. Waktu memberi, kadang itu kebutuhan kita tetapi karena kita bergumul beriman dan mencintai Tuhan maka kita memberi persembahan. Mungkin ada suami istri yang bergumul, ”ini adalah uang yang ditabung untuk anak sekolah tetapi kalau Tuhan pimpin, kami mau memberi persembahan kepada Tuhan”.